Rabu, 25 Maret 2015

Awal perkenalanku dengan Sumbing [PART 1]

Tahun 2007 merupakan awal mulanya saya diperkenalkan dengan dirinya. Anton sahabat saya dari jaman kuliah dulu, dia adalah orang yang pertama kali memperkenalkan Sumbing kepada saya. Saya mulai mencari tahu siapa itu Sumbing melalui internet, wow... ternyata cantik sekali dia...
Setelah saya dan Anton bersepakat untuk menemui Sumbing akhir tahun ini, mulailah saya mempersiapkan semuanya. Mulai dari olahraga yang rutin hingga menabung untuk biaya perjalanan menemui Sumbing. Sumbing tinggal di tiga kabupaten Jawa Tengah, yaitu kab. Magelang, Temanggung dan Wonosobo.

Akhirnya hari itupun tiba,bulan Desember 2007 setelah hari natal kami berdua berangkat menuju Sumbing sekaligus kami akan mengakhiri akhir tahun 2007 ini di kota Solo. Dengan menggunakan kereta api kelas ekonomi jurusan Bandung - Lempuyangan yogyakarta serta dengan persiapan yang sudah kami bawa dalam tas cariel yang berukuran besar. Perjalanan yang hampir memakan waktu kurang lebih 12 jam dari kota Bandung, akhirnya pagi hari kami sampai di Yogyakarta dan langsung mencari sarapan didekat stasiun Lempuyangan. Singkat cerita setelah kami berbelanja sedikit perlengkapan tambahan di Yogyakarta, kami langsung berangkat menuju terminal Magelang menggunakan kendaraan umum.


Mas Anton sedang berbelanja disalah satu 
toko outdoor daerah yogyakarta.
Sesampainya diterminal Magelang kami melanjutkan perjalanan menggunakan elf menuju Wonosobo tempat dimana Sumbing tinggal. Setelah sekian lama kami didalam elf akhirnya sampai juga kami di depan gapura Desa Garung, untuk menuju basecamp pendakian Jalur Garung, terlebih dahulu harus mencapai Dusun Garung yang berada di jalan yang menurun ke arah Wonosobo, tepatnya di Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo. Basecamp pendakian berada sekitar 500 meter dari gapura. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 menit atau dengan naik ojek.

Sesampai di basecamp kami disambut dengan hangat oleh bapak penjaga basecamp. Dan kamipun dipersilahkan untuk beristirahat didalam.

Mas Anton, ketika kami berada didalam basecamp Sumbing. Sedang memasak air untuk membuat secangkir kopi hitam.
Suasana diluar, dingin serta kabut tebal.
Hari mulai gelap, tak terasa cuaca semakin dingin didalam basecamp. Terdengar suara motor dari kejauhan, kami kedatangan 2 orang tamu dari Surabaya yang hendak mendaki Sumbing juga. Kamipun berkenalan dan berencana untuk mendaki bersama. Malam panjang itu kami habiskan bercanda guraw bersama hingga akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat dikarenakan pagi hari kami harus bersiap melakukan perjalanan.

Pagipun tiba dan tak disangka kami kedatangan 2 tamu kembali yang hendak mendaki Sumbing, mereka berasal dari kota yang sama yaitu Bandung.

Suasana persipan pagi itu. Ki-Ka : Saya, mas dari Bandung dan mas dari Surabaya
Setelah dirasa persiapan kami berenam sudah siap kamipun berpamitan kepada bapak penjaga basecamp, dan tak lupa kami melakukan doa sebelum memulai perjalanan. Tak lupa pula kami mengabadikan momen kebersamaan itu.


Momen yang tak terlupakan. Foto bersama didepan basecamp Sumbing.
Peralatan yang akan kami bawa.
Dan akhirnya brangkattttt!!!! 

Kaki kaki kamipun mulai melangkah dengan pasti. Berbincang bincang saling mengenal satu sama lain, taklupa sambil foto foto sekitar. Menanjak, menyusuri perkampungan penduduk setempat merupakan pengalaman pertama bagi saya pribadi. Sungguh sampai detik itu saya masih belum percaya bahwa saya akan mendaki gunung Sumbing dimana ini merupakan gunung pertama bagi saya.

Setelah kami berjalan sekian jam melewati perkampungan warga serta kebun sayur dengan jalan yang menanjak. Batas hutan dan kebun (Bosweisen) dengan kondisi jalan berpasir dengan tanah liat dan akan melewati dua bukit yaitu Genus dan Seduplak, sedangkan jalur baru batas hutan terdapat pada KM III. kami memutuskan untuk rehat  sejenak menikmati pemandangan di kaki gunung Sumbing dengan latar belakang gunung Sindoro.


Situasi pagi itu saat kami memulai perjalanan.
Penduduk lokal gunung Sumbing.










Bersantai sejenak di pelataran kebun warga sebelum mencapai pos pertama.










Mas Anton dibelakang Gunung Sindoro. Suasana yang sulit diungkapkan.
Masnya dari Surabaya ini sedang berdiskusi tentang jalur yang akan dilewatinya.





























































Mas Anton bersama mas2nya dari Surabaya.



























[Bersambung...]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar